Makna dan Tujuan Hidup

Hari ini saya merasa disadarkan oleh seorang teman. Pada saat dia sedang menginstal aplikasi programnya dia sempat mempertanyakan makna dan tujuan hidup saya. Saya katakan adalah Bekerja. Lalu bekerja untuk apa? Mencari uang. Lalu uang tersebut akan digunakan untuk apa? Saya bilang untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sehari-hari. Kebutuhan hidup sehari-hari itu apa saja? Saya katakan, makan minum, beli perlengkapan elektronik  dan membantu orang tua ( karena saat ini saya masih lajang ). Teman saya hanya manggut-manggut dan menjawab “Ooo…..” sampai akhirnya teman saya kembali keruangannya saya masih merenung dan meresapi apa dibalik kata-katanya yang mempertanyakan   “ Untuk apa kita hidup saat ini “ Saya mencoba merenung dan membuka-buka buku untuk menemukan jawabannya. Akhirnya saya mencoba menyimpulkan dari pertanyaan tersebut adalah untuk mempersiapkan diri ketika kematian datang menjemput. Bagi  kebanyakan orang mungkin jawaban tersebut terdengar menakutkan . Membayangkan kematian saja sudah membuat miris, apalagi mengalaminya. Mengingat akan banyak dosa-dosa yang telah kita perbuat.

Tapi cobalah kita kembali bertanya kepada hati nurani, sebenarnya siapa yang bisa menghindari kematian? Ketika saat itu datang dan malaikat maut sudah siap mencabut nyawa kita siapa yang bisa mengelaknya? Jawabnya tidak ada.

Saya teringat pagi tadi pada saat melihat berita akan kepergian seorang politikus dan juga seorang artis senior yang menurut saya mempunyai integritas cukup tinggi akan nasib bangsa. Seseorang yang mempunyai prinsip  bahwa antara ucapan dan perbuatan adalah sama atau selaras. Bagi saya yang masih taraf belajar tentang hidup salut dengan orang yang bisa menjalankan keselarasan antara ucapan dan tindakan. Terkadang untuk bisa seperti itu tidaklah gampang dan itu butuh mental baja. Untuk bisa memulai hal tersebut menurut saya harus kembali ditanyakan kepada nurani diri sendiri. Coba dari hal-hal yang kecil dan sepele seperti bagaimana kita menghargai setiap orang, berbicara sopan santun, selalu melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda dan masih banyak lagi.

Bila kita kaji lebih dalam lagi makna hidup itu sama dengan visi hidup yag dijalani oleh kita. Dalam ilmu manajemen perusahaan , visi berarti hasil akhir yang ingin dicapai . Misalnya , perusahaan A ingin menjadi perusahaan yang terbaik dalam  memberikan pelayanan akan ilmu pengetahuan di dunia. Setelah menjadi terbaik, maka tercapailah hasil akhir yang dicita-citakan oleh perusahaan. Bila dalam konteks individu juga mempunyai visi tentang hidup. Makna dan tujuan hidup bagi setiap  orang berbeda-beda, tergantung bagaimana ia memaknai hidup ini. Namun, sejatinya makna dan tujuan hidup yang sebenarnya ialah kita mampu mengisi hidup dengan sesuatu yang berharga bagi diri sendiri dan orang lain.

Saya jadi teringat beberapa minggu lalu membeli buku tentang manjemen. Dalam salah satu cerita buku tersebut menjelaskan tentang hakikat hidup. Menurut praktisi manajemen hakikat hidup itu ada 3 dengan istilah kerennya yaitu Life is a Place of Worship ,Life is a place of Wealth, dan Life is a place of Warfare.

Life is a place of worship , hidup adalah pengabdian sesuai dengan ayat yang tertulis dalam Al-Quran yang berbunyi “ Dan tidak aku cipatakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepadaku” ( Qs Adz- Dzariyat [51]56). Karena hidup adalah pengabdian kepada tuhan sang pencipta. Bekerja dan ibadah adalah 2 hal yang berbeda. Ketika bekerja mencari nafkah, tujuan utamanya adalah mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya tidak perduli apakah halal atau haram. Namun bila dibarengi dengan tujuan ibadah tujuan utama dalah bekerja tidak hanya mencari keuntungan semata namun juga mencari keridhaan dari tuhan sang pencipta.

Life is a place of Wealth, hidup adlah kemakmuran. Kemakmuran itulah yang didamba oleh setiap insan. Karena kemakmuran adalah dambaan setiap orang, maka wajar kalau setiap orang memburunya, bahkan ada yang cenderung menghalakan segala cara, apapun dilakukannya agar dirinya selalu bagus dimata manajemen. Jilat atasan, injak bawahan, dan sikut kawan. Orang seperti ini meyakini bahwa kebahagiaan bisa tercapai kalau secara materi bisa dikatakan mapan. Cara berpikir orang tersebut cenderung  Money Oriented,. Selalu berburuk sangka terhadap setiap orang.

Life is a place or warfare, hidup adalah perjuangan  dan pertempuran. Sebenarnya hidup ini tidak ada bedanya denganmedan perang. Hanya memberikan pilihan “Kalah atau Menang”. Dalam sehari –hari kita selalu berhadapan dengan perjuangan, bertempur dengan diri sendiri. Musuh yang sesungguhnya sebenarnya adalah dalam diri kita sendiri.