warna kehidupan

Hidup seseorang memang tidak ada yang tahu. Saat ini bisa jadi seseorang bisa diatas , lain waktu bisa jadi ada dibawah. Seperti kata orang bijak, bahwa hidup yang kita jalani itu ibarat roda berputar.

Wal Asrii Inna innsanafi husrii (Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian )

Apakah kita pernah berpikir bahwa waktu yang kita jalani benar-benar dihabiskan di jalan Allah? Selalu dalam kerangka kebajikan dan memberikan manfaat bagi banyak orang? Pernahkan kita memberikan sesuatu dan saat itu juga kita ihklas dalam merberikan tanpa ada sedetikpun atau sebiji zarahpun yang kita pikirkan selain ihklas dalam memberi tanpa menimbang atau ragu?

Beberapa hari lalu saya kedatangan seorang teman sekaligus sahabat waktu SMU. Dia mengantarkan undangan pernikahannya, dan akhirnya bicara mengenang masa-masa seragam abu-abu. Saling nanya kabar mengenai kawan-kawan. Dari obrolan tersebut, banyak yang aku dapatkan mengenai perkembangan teman-teman. Ada seorang teman yang dulu datang dari keluarga berada, ternyata sekarang hidupnya tidak menentu, dan ada teman wanita yang dulu cantik dan punya gaul dari kalangan jetset ternyata saat ini hanya menjadi SPG. Kalo dipikir-pikir waktu memang tidak bisa berputar kembali dan masa yang sekarang ini mesti dijalani dengan sebaik-baiknya sambil terus berusaha berihktiar sama sang pencipta. Aku merenung dan bertanya-tanya terhadap diri sendiri, mengenang kisah perjalanan hidup yang aku jalani.

Pendidikan dasar kujalani dengan biasa-biasa, dan alhamdulillah masuk ke sekolah menengah pertama dengan nilas pas-pasan, penuh dengan bolos dan kejailan seoarang anak remaja dan akhirnya lulus dengan nilas pas-pasan juga :D akhirnya masuk kesekolah swasta ( amppunnn deh….:D) mulai sadar saat di SMU dan bergaul dengan lingkungan preman dan para gali di wilayah BLOK M. Ada satu hikmah yang bisa aku petik dari bergaul dengan golongan seperti mereka bahwa dengan bisa memahami mereka dan bisa menjalin persahabatan mereka , maka mereka akan melindungi kita melebihi nyawa mereka sendiri. Mempunyai relasi dan teman seperti mereka memberikan warna-warna bagi perjalanan hidup aku. Eksistensi pengakuan akan harga diri mereka untuk tidak meminggirkan dan memarjinalkan diri mereka akan membuat mereka juga bisa punya peran bagi lingkungan setempat. Hal-hal yang bagi orang lain mungkin merasa takut atau jerih tapi bagi diriku keberadaan mereka ternyata sangat kuat dalam memegang teguh nilai-nilai persahabatan. Kadang sampai sekarang, bila aku mengunjungi tempat-tempat dimana dulu pernah menjadi basecamp mereka, sudah jarang kutemu wajah-wajah lama yang dulu pernah menjalin teman denganku, yang tampak adalah wajah-wajah generasi baru yang masih muda-muda.

Meski bergaul dengan mereka, alhamdulillah aku bisa lulus dengan nilai lumayan bagus dan bisa melanjutkan keperguruan tinggi. Namun manusia berencana Allah yang maha menentukan, disaat ingin memasuki perguruan tinggi, datang lagi cobaan ayahku dipanggil keharibaanNYA. Sempat gamang. Namun Ibu, yang selalu memberi semangat bahwa aku harus melanjutkan Kuliah dan selama kuliah aku benar-benar merasakan bagaimana memperjuangkan hidup agar bisa survive dan lulus. Nah saaat menjadi mahasiswa, aku benar-benar merasakan bahwa hidup itu memang penuh dengan perjuangan. Hidup itu harus diperjuangkan dengan sekuat tenaga. Tidak bisa dengan mengandalkan teman atau saudara. Aku belajar bagaimana menjadi pribadi yang lembut sekaligus keras. Lembut bila melihat seseorang teraniaya dan wanita pengemis tua dan keras bila merasa dizalimi atau ditindas. Karekater yang kudapat perpaduan dari kedua oran tuaku. Ayah yang keras dan penuh disiplin serta kelembutan dari sikap ibu yang memberikan kedamaian hati.

Ayah,,andai kamu bisa lihat sekarang kami begitu kompak saling mendukung satu sama lain. aku yakin kamu akan tersenyum dan bahagia.

~ oleh senapatipamungkas di/pada 8 Mei 2008.

Tinggalkan Balasan