belajar…belajar dan terus belajar

•27 Agustus 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pagi setelah bangun dari tidur dan mimpi panjang , aku berpikir bahwa selain keluarga dan diri sendiri rasanya tidak ada yang bisa dapat dipercaya. Hidup adalah suatu proses belajar dan terus belajar dimana kita jadi lebih dewasa dan bijak. Belajar bagaimana kita jadi lebih bisa melihat dan mendengar suatu berita dan tanda yang tidak kasat mata , dan mengolahnya untuk menganalisa akan hal tersebut. Belajar dari pengalaman bahwa menaruh kepercayaan terhadap seseorang yang over akan mungkin menjadi bumerang buat diri sendiri. Karena meski dekat, kadang suatu saat bisa menajadi jauh dan hal-hal yg dulu manis bisa menjadi pahit.

Syech Siti Jenar

•16 Agustus 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufi dan juga salah satu penyebar agama Islam di pulau Jawa yang sangat kontroversial di Jawa, Indonesia. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya, di masyarakat, terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.

Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah intelektual yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran – ajarannya tertuang dalam pupuh, yaitu karya sastra yang dibuatnya. Meskipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti.

Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang bertentangan dengan cara hidup Walisongo. Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.

Konsep dan ajaran

Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, yaitu apa yang disebut umum sebagai kematian justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi.

Konsekuensinya, ia tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian (hukum negara dan lainnnya), tidak termasuk didalamnya hukum syariat peribadatan sebagaimana ketentuan syariah. Dan menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Siti Jenar bahwa manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu: syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Baginya, syariah itu baru berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan paska kematian. Syekh Siti Jenar juga berpendapat bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu. Mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam sekitar abad ke-9 Masehi) tentang Hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat manusia dan Tuhan. Dimana Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4 tahapan ; 1. Syariat (dengan menjalankan hukum-hukum agama spt sholat, zakat dll); 2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan spt wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu; 3. Hakekat, dimana hakekat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan; dan 4. Ma’rifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya. Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut maka tahapan dibawahnya ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syech Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami setelah melewati ratusan tahun pasca wafatnya sang Syech. Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syech Siti Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran Islam yang harus disampaikan adalah pada tingkatan ‘syariat’. Sedangkan ajaran Siti Jenar sudah memasuki tahap ‘hakekat’ dan bahkan ‘ma’rifat’kepada Allah (kecintaan yang sangat kepada ALLAH). Oleh karenanya, ajaran yang disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan kata ‘SESAT’.

Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa. Hanya saja masing – masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda – beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing – masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.

Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.

Manunggaling Kawula Gusti

Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan Tuhannya.

Dan dalam ajarannya, ‘Manunggaling Kawula Gusti’ adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia (“Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (Shaad; 71-72)”)>. Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi.

Perbedaan penafsiran ayat Al Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham ‘Manunggaling Kawula Gusti’.

Hamamayu Hayuning Bawana

Prinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil alamin. Seorang dianggap muslim, salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya dan bukannya menciptakan kerusakan di bumi.

Kontroversi

Kontroversi yang lebih hebat terjadi di sekitar kematian Syekh Siti Jenar. Ajarannya yang amat kontroversial itu telah membuat gelisah para pejabat kerajaan Demak Bintoro. Di sisi kekuasaan, Kerajaan Demak khawatir ajaran ini akan berujung pada pemberontakan mengingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga adalah keturunan elite Majapahit (sama seperti Raden Patah) dan mengakibatkan konflik di antara keduanya.

Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Demak Bintoro, khawatir ajaran ini akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat. Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan satu tindakan bagi Syekh Siti Jenar yaitu harus segera menghadap Demak Bintoro. Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tak cukup untuk dapat membuat Siti Jenar memenuhi panggilan Sri Narendra Raja Demak Bintoro untuk menghadap ke Kerajaan Demak. Hingga konon akhirnya para Walisongo sendiri yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Siti Jenar berada.[rujukan?]

Para Wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.

Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Siti Jenar. Menurut Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuh Siti Jenar. Karena beliau dapat meminum tirtamarta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menjelang kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.[rujukan?]

Tak lama, terbujurlah jenazah Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya yang benar-benar pandai yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo dan Ki Pringgoboyo pun mengakhiri “kematian”-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.[rujukan?]

Kisah pada saat pasca kematian

Terdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Siti Jenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya kilau kemilau memancar dari jenazah Siti Jenar.

Jenazah Siti Jenar sendiri dikuburkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain mengatakan, ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain.

Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki. Di antaranya yang terceritakan adalah Kiai Lonthang dari Semarang Ki Kebokenanga dan Ki Ageng Tingkir.

Siti jenar dan wahdatul wujudnya

•16 Agustus 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Wahdatul Wujud mempunyai pengertian secara awam yaitu; bersatunya Tuhan dengan manusia yang telah mencapai hakiki atau dipercaya telah suci. Pengertian sebenarnya adalah merupakan penggambaran bahwa Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Allah adalah sang Khalik, Dia-lah yang telah menciptakan manusia, Dia-lah Tuhan dan kita adalah bayangannya. Dari pengertian yang hampir sama, terdapat pula kepercayaan selain wahdatul wujud. Yaitu Wahdatul Syuhud. Pengertiannya yaitu; Kita dan semuanya adalah bagian dari dzat Allah.

Jadi keduanya berpengertian, kita dapat bersatu dengan dzat Allah. Dalam penggambaran karya-karya suluk di jawa yang berisi mengkritik ajaran para wali sembilan, misalnya suluk karya Syekh Siti Jenar (contoh lainnya adalah serat gatholokoco, dinamakan serat karena penulis suluk ini, Gatholokoco berpendapat bahwa suluk lebih cenderung ke islam), manusia dianggap memiliki 20 sifat-sifat Allah. Contohnya di antaranya; dzat Allah terdapat pada diri kita, jadi kita tidak perlu shalat karena dzat Allah sudah ada pada diri kita (Jawa: Islam Abangan). Tentu saja hal-hal tersebut di atas sangat bertentangan dengan syariat islam, dan Syekh Siti Jenar dihukum oleh para wali sembilan. (Sejarah Syekh Siti Jenar tidak terlalu jelas).

Wahdatul Wujud sebenarnya adalah suatu ilmu yang tidak disebarluaskan ke orang awam. Sekalipun demikian, para wali-lah yang mencetuskan hal tersebut. Karena sangat dikhawatirkan apabila ilmu wahdatul wujud disebarluaskan akan menimbulkan fitnah dan orang awam akan salah menerimanya. Wali yang mencetuskan tersebut contohnya adalah Al Hallaj dan Ibn Arabi. Meskipun demikian, para wali tersebut tidak pernah mengatakan dirinya adalah tuhan. Dan mereka tetap dikenal sebagai ulama alim.

Dalam dunia tasawuf, sering terdapat perbedaan antara ilmu syariat dan ilmu ma’rifat. Sebagai orang islam tentu saja diharuskan menguasai ilmu syariat. Dan ilmu ma’rifat atau ilmu tashawuf dengan kata lain ilmu hikmah, sangat ditekankan untuk mengambil sebuah hikmah. Hal tersebut telah diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an Surat Al Kahfi tentang pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir. Hal tersebut menunjukan Ilmu Syariat yang dikuasai Nabi Musa dari kitabnya (Taurat) dan Nabi Khidir yang mendapatkan langsung ilmunya dari petunjuk Allah yang penuh hikmah atau ilmu ma’rifat.

Dalam penggambaran awal tersebut sudah ditunjukan betapa susahnya memahami ilmu ma’rifat dengan ilmu syariat. Penggambarannya adalah seperti pertemuan antara daratan dan lautan. Dimana Musa diberitahukan, ia akan menemukan orang yang lebih pandai darinya disaat ikan yang dibawanya hilang. Ikan mati tersebut hidup kembali di suatu tempat ketika Nabi Musa dan pembantunya beristirahat. Hal itu merupakan penggambaran ilmu yang sangat susah sekali dimana ikan mati dapat hidup kembali, seperti Nabi Musa yang tidak dapat bersabar melihat perilaku Nabi Khidir yang dilihat secara syariat sangat bertentangan. Tetapi hal tersebut dilakukan Nabi Khidir dari petunjuk Allah yang penuh dengan hikmah. Jadi tentu saja hal-hal ma’rifat hanya dapat dipahami secara pribadi bagi orang yang diturunkan kepadanya secara langsung.

Meskipun ilmu ma’rifat terlihat sangat bertentangan dengan ilmu syariat, tetapi sebenarnya tidak. Jadi ilmu tersebut dapat dikatakan ilmu tinggi yang digali dari perjalanan pikir para wali dan tidak untuk disebarluaskan. Hal tersebut seperti terjadi pada Syekh Siti Jenar yang mendengarkan wejangan yang diberikan oleh Sunan Ampel kepada orang yang akhirnya menjadi seorang wali, yaitu Sunan Bonang. Siti Jenar adalah orang awam yang salah tangkap menerima wejangan tersebut. Tetapi dari kedua konsep tersebut, para ulama masih berbeda pendapat.

Selain perseteruan pendapat konsep wahdatul wujud dan wahdatul syuhud di jawa, hal itu juga terjadi pada kaum Syi’ah Isma’iliyah pada masa Al Hallaj. Hal yang berbeda pengertian terjadi dari definisi kaum syi’ah tentang zina, puasa, dan sabar. Mereka juga dianggap pemberontak dan dianggap musuh oleh raja dan para ulama. Peperangan yang terjadi tidaklah dari para ulama, tetapi oleh Raja yang menganggap mereka adalah pemberontak dan musuh politik. Al Hallaj yang hidup di masa itu, dia mengucapkan kata yang sangat menggemparkan: Ana Al-Haqq berarti Akulah kebenaran. Dia kemudian dianggap mendukung kaum syi’ah. Hal ini juga berarti permasalahan yang timbul dari perselisihan antara ilmu syariat, ilmu ma’rifat, dan kekuasaan atau politik. Semua yang terjadi adalah karena kesalahan pemahaman. Terbunuhnya Al Hallaj bukan karena ucapannya tetapi karena politik.Tetapi merupakan kesalahan Al Hallaj yang mengucapkan dan mengajarkan konsep Wahdatul Wujud (Ana Al-Haqq) kepada murid-muridnya. Bahwa hal tersebut adalah ilmu yang sangat pribadi dan hanya dimengerti oleh orang yang menerimanya. Selain itu, Al Haqq merupakan sifat-sifat Allah.

Ilmu syariat dan ilmu ma’rifat akan selalu menemui kesulitan untuk diajarkan terutama ke masyarakat awam karena ilmu ma’rifat bersifat pribadi dan ghaib. Hal itu merupakan rahasia bagi orang yang menerimanya.

melihat, merasakan dan mendengar

•14 Agustus 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Segala macam harapan yang sempat sirna akhirnya timbul dan menjadi motivasi dalam menggapai hidup namun harapan tinggallah harapan kalo ternyata realitas ternyata berbeda.

Melihat, mendengar dan merasakan, kalo ternyata kejadian yang sama kembali terulang seperti tahun lalu. Fenomena apa ini? aku tidak tahu.

Namun kesadaran menyeruak dalam pikiranku kalau hal ini tidak mungkin terjadi bila tanpa disengaja atau dengan alasan lupa.

Sempat terlintas untuk mempertanyakan hal ini namun untuk apa? Hanya ingin memperlihatkan ego semata dan menunjukkan ke super poweran kekuasaan absolut.

Mungkin dengan hal itu bisa memberikan kepuasan dan tersenyum baginya. Mungkin hal itu bisa melihat seseorang menjadi berubah.

Yah berubah menjadi lebih baik sebagai cambuk untuk perbaiki diri atau malah menjadi terpuruk. Semua kembali ke diri masing-masing yang menjalani hidup.

Palm Centro ..PDA mungil untuk sejuta aksi

•6 Agustus 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Jika menginginkan sebuah PDA dengan harga ekonomis dan fasilitas yang memadahi, mungkin seri terbaru PDA dari Palm inilah jawabannya. Palm Centro termasuk membawa banyak fasilitas dan kemudahan dengan harga yang relatif murah di kelas PDA.

Perbedaan mencolok jika kita melihat Palm Centro dibandingkan dengan Palm PDA yang lain adalah dalam hal ukuran dan penampilan. Betapa tidak, jika dibandingkan dengan Palm Treo saja, pasti orang akan lebih memilih Palm Centro. Dalam hal kestabilan, seperti juga generasi sebelumnya, walaupun PDA ini tidak mengusung sistem operasi yang baru, namun untuk kestabilan tidak diragukan lagi.

Untuk kelas PDA, handphone ini memang tidak mempunyai fitur-fitur baru yang canggih, namun aplikasinya cukup lengkap untuk sebuah PDA. Centro banyak mengusung aplikasi yang seharusnya ada pada Treo 680. Namun begitu masing-masing mempunyai sasaran pasar yang berbeda, walaupun tidak menutup kemungkinan keduanya akan saling berebut pasar. Jika dibandingkan dengan Treo, Centro memiliki ukuran yang lebih kecil, ringan dan mempunyai sistem koneksi Internet secara langsung yang cepat. Untuk battery, dapat bertahan hingga kurang lebih dua hari pada pemakaian ringan karena untuk pemakaian Internet pasti akan lebih boros.

Hal lain yang menarik dari Palm Centro adalah paket aplikasi yang terinstall, seperti Documents to ‘Go 10 Professional Edition’, ‘Google Maps’, ‘Sprint Instant Messaging’, ‘Pocket Tunes Deluxe’, ‘Sprint TV’ dan ‘Astraware Suduko’. Paket ini sudah terinstall otomatis pada saat pembelian sebagai fitur telepon.

Sebagai telepon, Palm Centro dilengkapi fitur standart handphone seperti pada Sprint Treo 755p ditambah kualitas speaker yang bening, walaupun pada volume maksimal. Sedangkan sebagai PDA, Palm Centro juga menawarkan banyak fitur. Dengan layar sentuhnya (touch screen) memungkinkan pengguna mengaksesnya menggunakan keyboard QWERTY maupun pen stylus. Seperti juga PDA yang lain, Centro juga dilengkapi dengan browser.

Dengan Centro, pengguna dapat mengubah tampilan emailnya baik dari account POP3 maupun IMAP sehingga dapat lebih mudah dibaca. Untuk kalender, kontak, memo dan aplikasi lainnya sama dengan yang terdapat pada seri Palm Treo. ‘Documents to Go 10’ juga akan membantu pengguna dalam mengerjakan file-file Microsoft Office. Selain itu juga terdapat aplikasi peta Google (Google Maps), Astraware Suduko, Sprint TV dan lain sebagainya. Selain itu Centro juga diperlengkapi dengan Pocket Tunes Deluxe dan MP3 Player. Untuk kapasitas musik yang lebih besar, masih bisa ditambahkan 4 GB microSD card.

Secara keseluruhan Palm Centro menawarkan banyak fitur yang kompetitif untuk PDA di kelasnya, karena fungsi fiturnya tergolong lengkap untuk PDA dengan harga menengah ke bawah seperti Centro. Walaupun mungkin system operasi yang digunakan tidaklah baru, namun Centro tetap menawarkan kecepatan akses Internet serta kelengkapan dan kenyamanan sebuah PDA di kelasnya. (Sumber: beritanet.com)

Spesifikasi :
* Palm OS 5.4.9
* 320 by 320 pixel touchscreen
* 2.1 in by 4.2 in by 0.7 in
* 4.2 oz
* 128 MB ROM, 64 MB user accessible RAM
* microSD card slot supporting 4 GB microSD (SDHC untested by reviewer)
* Sprint EV-DO Rev. 0
* Battery 1150 mAh battery yang dapat bertahan selama 3.5 jam waktu bicara
* Kamera 1.3 megapixel dengan 2x digital zoom
* Bluetooth 1.2

Hidup bahagia ataukah hidup berguna

•5 Agustus 2008 • 1 Komentar

Apa yang paling penting dalam hidup ini ya? Hidup bahagia atau hidup berguna?

Dua-duanya, memang sedikit berbeda, khususnya dalam praktek. Banyak diantara kita akan cenderung memilih “hidup bahagia”. Untuk itu kita berusaha gimana caranya bisa hidup bahagia. Kalaupun tak bisa mendefinisikan apa itu bahagia dalam arti hakiki, paling tidak umumnya kita akan berusaha mati-matian untuk menghindari “hidup menderita”.

Saya sering bertanya-tanya, sebenarnya apa itu bahagia? Apakah ketika hati gembira itu adalah pertanda kita bahagia? Apakah ukurannya memang “perasaan hati”? Ketika kekayaan kita bertambah, kita senang sekali. Itukah bahagia? Ketika kita dipuji, kita pun merasa “berharga”. Itukah bahagia?

Tapi anehnya, ketika melakukan kebaikan atau kewajiban yang tidak dilihat orang lain, kok kita biasa-biasa saja? Ga ada perasaan apa-apa? Apa perasaan anda ketika mau bangun tidur untuk shalat subuh, misalnya? Apakah timbul perasaan suka? Bukankah kita akan bertemu dengan Sang Maha Pencipta? Ataukah perasaan Anda hanya biasa-biasa saja? Kok beda sekali halnya ketika kita dipanggil untuk bertemu dengan orang yang kita hormati, kita cintai, idola kita  … bisa-bisa nggak tidur semalaman!

Ada apa ini? Apakah ini pertanda “manisnya iman” sudah tercerabut dari hati kita? Saya jadi ingat salah satu tanda azab Allah kepada kita adalah dicabutnya perasaan “manisnya iman” saat kita beribadah kepada-Nya.

Lalu, mari kita baca kisah-kisah pada nabi dan para sahabat nabi. Bisa dibilang hidup mereka habis oleh berbagai penderitaan, paling tidak dalam ukuran penderitaan jasmani. Kesulitan demi kesulitan menghadang perjuangan mereka. Peperangan dan fitnah senantiasa terjadi sepanjang hidup mereka. Saya yakin, bila kita bandingkan dengan keadaan sekarang, kita akan mengatakan “mereka tidak bahagia”.

Betulkah demikian? Saya baca lagi, ternyata sekalipun secara jasmani mereka menderita, namun secara ruhani, jiwa mereka justru selalu diliputi kebahagiaan tiada tara. Mereka tidak pernah mengeluh, bahkan senantiasa bersyukur atas segala nikmat hidup yang mereka terima. Jadi ternyata ruhani mereka bahagia. Ruhaninya terhubung dengan Allah SWT. Kebahagiaan mereka hanyalah tatkala mereka mampu senantiasa bersyukur kepada-Nya dan senantiasa ikhlas menjalani setiap detik kehidupannya.

Subhanallah. Apa yang membuat mereka bisa begitu?

Ini memang berbeda dengan pencarian kebahagiaan kita. Mungkin memang ukuran kebahagiaan kita yang sudah salah. Kita mengukurnya dengan neraca biologis jasmani kita. Kepuasan perut kita, kesenangan farji kita, kebanggaan diri kita, pengakuan orang lain, hidup dalam kemewahan, hedonisme, dsb. Padahal ‘kan seharusnya adalah keridhaan Allah terhadap perbuatan dan pertumbuhan diri kita. Bukankah salah satu tujuan hidup kita adalah “berjalan menuju Allah SWT”? Sehingga fokus kebahagiaan kita hanyalah ketika kita merasa benar-benar “bergerak semakin dekat kepada-Nya”?  Itu artinya  kebahagiaan kita  berada  dalam koridor  “perjalanan ruhani kita.”

Perjalanan pertumbuhan ruhani kita, agaknya banyak terkait dengan pertumbuhan pengetahuan kita, pertumbuhan amal shalih kita, pertumbuhan ibadah kita. Hanya dengan cara begitu kita “mendekati” Allah SWT.

Kalau begitu, kembali ke pertanyaan awal tulisan kita tadi, hidup seperti apa yang kita pilih? Saya cenderung pada pilihan “hidup yang berguna”. Ya, itu dia. Dan saya yakin, jika saya fokus pada jalan itu, saya pun pasti akan “hidup bahagia”. Paling tidak secara ruhaniah, ya nggak?

Menurut anda gimana?

Makna dan Tujuan Hidup

•21 Mei 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hari ini saya merasa disadarkan oleh seorang teman. Pada saat dia sedang menginstal aplikasi programnya dia sempat mempertanyakan makna dan tujuan hidup saya. Saya katakan adalah Bekerja. Lalu bekerja untuk apa? Mencari uang. Lalu uang tersebut akan digunakan untuk apa? Saya bilang untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sehari-hari. Kebutuhan hidup sehari-hari itu apa saja? Saya katakan, makan minum, beli perlengkapan elektronik  dan membantu orang tua ( karena saat ini saya masih lajang ). Teman saya hanya manggut-manggut dan menjawab “Ooo…..” sampai akhirnya teman saya kembali keruangannya saya masih merenung dan meresapi apa dibalik kata-katanya yang mempertanyakan   “ Untuk apa kita hidup saat ini “ Saya mencoba merenung dan membuka-buka buku untuk menemukan jawabannya. Akhirnya saya mencoba menyimpulkan dari pertanyaan tersebut adalah untuk mempersiapkan diri ketika kematian datang menjemput. Bagi  kebanyakan orang mungkin jawaban tersebut terdengar menakutkan . Membayangkan kematian saja sudah membuat miris, apalagi mengalaminya. Mengingat akan banyak dosa-dosa yang telah kita perbuat.

Tapi cobalah kita kembali bertanya kepada hati nurani, sebenarnya siapa yang bisa menghindari kematian? Ketika saat itu datang dan malaikat maut sudah siap mencabut nyawa kita siapa yang bisa mengelaknya? Jawabnya tidak ada.

Saya teringat pagi tadi pada saat melihat berita akan kepergian seorang politikus dan juga seorang artis senior yang menurut saya mempunyai integritas cukup tinggi akan nasib bangsa. Seseorang yang mempunyai prinsip  bahwa antara ucapan dan perbuatan adalah sama atau selaras. Bagi saya yang masih taraf belajar tentang hidup salut dengan orang yang bisa menjalankan keselarasan antara ucapan dan tindakan. Terkadang untuk bisa seperti itu tidaklah gampang dan itu butuh mental baja. Untuk bisa memulai hal tersebut menurut saya harus kembali ditanyakan kepada nurani diri sendiri. Coba dari hal-hal yang kecil dan sepele seperti bagaimana kita menghargai setiap orang, berbicara sopan santun, selalu melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda dan masih banyak lagi.

Bila kita kaji lebih dalam lagi makna hidup itu sama dengan visi hidup yag dijalani oleh kita. Dalam ilmu manajemen perusahaan , visi berarti hasil akhir yang ingin dicapai . Misalnya , perusahaan A ingin menjadi perusahaan yang terbaik dalam  memberikan pelayanan akan ilmu pengetahuan di dunia. Setelah menjadi terbaik, maka tercapailah hasil akhir yang dicita-citakan oleh perusahaan. Bila dalam konteks individu juga mempunyai visi tentang hidup. Makna dan tujuan hidup bagi setiap  orang berbeda-beda, tergantung bagaimana ia memaknai hidup ini. Namun, sejatinya makna dan tujuan hidup yang sebenarnya ialah kita mampu mengisi hidup dengan sesuatu yang berharga bagi diri sendiri dan orang lain.

Saya jadi teringat beberapa minggu lalu membeli buku tentang manjemen. Dalam salah satu cerita buku tersebut menjelaskan tentang hakikat hidup. Menurut praktisi manajemen hakikat hidup itu ada 3 dengan istilah kerennya yaitu Life is a Place of Worship ,Life is a place of Wealth, dan Life is a place of Warfare.

Life is a place of worship , hidup adalah pengabdian sesuai dengan ayat yang tertulis dalam Al-Quran yang berbunyi “ Dan tidak aku cipatakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepadaku” ( Qs Adz- Dzariyat [51]56). Karena hidup adalah pengabdian kepada tuhan sang pencipta. Bekerja dan ibadah adalah 2 hal yang berbeda. Ketika bekerja mencari nafkah, tujuan utamanya adalah mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya tidak perduli apakah halal atau haram. Namun bila dibarengi dengan tujuan ibadah tujuan utama dalah bekerja tidak hanya mencari keuntungan semata namun juga mencari keridhaan dari tuhan sang pencipta.

Life is a place of Wealth, hidup adlah kemakmuran. Kemakmuran itulah yang didamba oleh setiap insan. Karena kemakmuran adalah dambaan setiap orang, maka wajar kalau setiap orang memburunya, bahkan ada yang cenderung menghalakan segala cara, apapun dilakukannya agar dirinya selalu bagus dimata manajemen. Jilat atasan, injak bawahan, dan sikut kawan. Orang seperti ini meyakini bahwa kebahagiaan bisa tercapai kalau secara materi bisa dikatakan mapan. Cara berpikir orang tersebut cenderung  Money Oriented,. Selalu berburuk sangka terhadap setiap orang.

Life is a place or warfare, hidup adalah perjuangan  dan pertempuran. Sebenarnya hidup ini tidak ada bedanya denganmedan perang. Hanya memberikan pilihan “Kalah atau Menang”. Dalam sehari –hari kita selalu berhadapan dengan perjuangan, bertempur dengan diri sendiri. Musuh yang sesungguhnya sebenarnya adalah dalam diri kita sendiri.  

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.